Berpolitik dalam Sunyi

Masalah kebebalan otak dan etik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara boleh jadi karena kehidupan politik dan kebudayaan kita diwarnai oleh surplus kegaduhan dan defisit kesunyian.

Demokrasi dirayakan dengan pesta jorjoran, tetapi miskin substansi dan refleksi; budaya dipadati tontonan ingar-bingar, dengan kedangkalan sensitivitas etis dan fajar budi; agama diekspresikan dalam kegaduhan yang menyerang, miskin perenungan dan rasa kemanusiaan.

Ekspresi kebangsaan yang dangkal dan menyerang seperti itulah yang dulu dikhawatirkan Agus Salim. ”Atas dasar perhubungan yang karena benda dunia dan rupa dunia tidaklah akan dapat ditumbuhkan sifat-sifat keutamaan yang perlu untuk mencapai kesempurnaan…. Dalam cinta Tanah Air, kita mesti menunjukkan cita-cita yang lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak, keadilan, dan keutamaan yang batas dan ukurannya telah ditentukan oleh Allah SWT.”

Menanggapi kekhawatiran itu, Soekarno menulis di Suluh Indonesia (12 Agustus 1928), ”Nasionalisme kita ialah nasionalisme ketimuran dan sekali-kali bukanlah nasionalisme kebaratan yang menurut perkataan CR Das adalah suatu nasionalisme yang menyerang- nyerang, suatu nasionalisme yang mengejar keperluannya sendiri. Suatu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi.

Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi ’perkakasnya Tuhan’ dan membuat kita hidup dalam roh.”

Itulah sebabnya, para pendiri bangsa ini, bahkan golongan komunis sekalipun, menyepakati prinsip ketuhanan sebagai salah satu filosofi dasar kenegaraan.

Menurut Mohammad Hatta, perubahan posisi sila Ketuhanan dari posisi pengunci (sila kelima) dalam pidato Soekarno, 1 Juni 1945, menjadi posisi pembuka (sila pertama), mengandung makna bahwa negara ”memperkokoh fundamennya, negara dan politik negara mendapat dasar moral yang kuat”.

Fundamen moral menjadi landasan dari fundamen politik (sila kedua sampai kelima).

Meski demikian, jarak dari idealitas ke realitas kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini jauh panggang dari api.

Jika dulu Agus Salim menengarai watak kebangsaan yang dangkal dan menyerang itu pada kecenderungan nasionalisme Eropa, ternyata watak kebangsaan seperti itu juga terkandung dalam kebangsaan kita.

Hanya saja, karena mentalitas kebangsaan kita bak katak dalam tempurung, kecenderungan kebebalan dan semangat menyerang itu diarahkan kepada sesama bangsa sendiri.

Dalam kebisingan pesta pora pemimpin politik, watak menimbun dan snobisme yang mereka kembangkan menempatkan ”negara” sebagai kuburan bagi rakyatnya. Dalam konsumerisme yang dipromosikan industri budaya, ”roh” kebangsaan sebagai ”perkakas Tuhan” terkubur dalam gairah komodifikasi. Dalam ketuhanan yang gaduh dan menyerang, fundamen moral terkubur politisasi agama.

Kegaduhan

Dalam situasi kebebalan kegaduhan itu, ibadah puasa sesungguhnya merupakan momen penemuan kedalaman kesunyian.

Kata shaum (puasa) sering dinisbatkan pada proses penenangan, seperti angin kencang yang perlahan reda (shâmat al-rîh). Kata ini pun berarti usaha pengendalian, seperti penambatan kuda liar (mashâm al-faras).

Namun, celakanya, momen untuk menghikmati kesunyian ini pun ternyata dimeriahkan oleh kegaduhan.

Bahkan, pada malam hari, saat tenang untuk tafakur dan tadzakkur (berzikir), ritual buka bersama dan sajian industri media membuat malam terasa lebih bising dari hari-hari biasa.

Di dalam kegaduhan, apakah bisa dihayati ketuhanan? Inti ketuhanan adalah bercengkerama dengan kekudusan (numinous).

Hanya dalam sunyi, kedirian mudah menyatu dalam kekudusan. Secara kuat hal ini dibahasakan Amir Hamzah, ”sunyi itu kudus”.

Dalam kesunyian, menurut Abraham Maslow, kebatinan mikrokosmos menyatu dalam kebatinan makrokosmos; tidak ada oposisi, kesenjangan, dan perbedaan antara ego dan kosmos: bahwa bahasa jiwa merupakan vibrasi dari semesta.

Dan suatu upaya aktualisasi diri dalam puncaknya yang tertinggi dan terdalam adalah usaha meleburkan diri dengan kosmos bagi penemuan kebenaran, keindahan, dan keadilan tertinggi.

Menjadi meragukan, apakah bangsa ini benar-benar religius? Apakah sila Ketuhanan benar-benar menjadi landasan moralitas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara? Nama Tuhan kerap diseru, tetapi Tuhan sendiri sebagai manifestasi kebenaran, keindahan, dan keadilan tertinggi telah lama menghilang, terusir oleh kedangkalan dan kegaduhan.

Puasa dimaksudkan sebagai proses pelatihan untuk menghadirkan Tuhan dalam proses individuasi, ketika amal perbuatan tidak didasarkan pada pertimbangan orang lain, melainkan karena pertanggungjawaban pribadi di jalan sunyi.

Seperti kata ’Ali bin Abi Thalib, ”Sepatutnya seorang hamba merasakan kehadiran Tuhan pada waktu sendirian (ketika tidak dilihat orang banyak), memelihara dirinya dari segala cela, dan bertambah kebaikannya ketika usianya bertambah tua.”

Hanya dalam kesunyian pribadi yang bertanggung jawab, ketuhanan bisa membawa kehidupan publik yang damai dan sentosa.

Seperti diungkapkan oleh Bunda Teresa: ”Buah dari kesunyian adalah peribadatan//Buah dari peribadatan adalah keyakinan//Buah dari keyakinan adalah kecintaan//Buah dari kecintaan adalah pelayanan//Buah dari pelayanan adalah kedamaian.”

Reform Institute

Sumber : http://yudilatif.wordpress.com/2009/10/19/berpolitik-dalam-sunyi/#more-171

*—–

https://dewandaerah.wordpress.com, managed by :

riris prasetyo/ 0811 184 172

peminat politik lokal,  penguatan DPRD, keuangan daerah dan pengelolaan kekayaan daerah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: